22 Tahun SMK Plus Almaarif Singosari, Dari Pesantren Menuju Teknokrat Masa Depan

YP ALMAARIF SINGOSARI – SMK Plus Almaarif Singosari memperingati Harlah ke-22 dengan semangat memperkuat kompetensi, kreativitas, dan karakter siswa. 

Memasuki usia ke-22, sekolah tidak ingin menjadikan hari kelahiran sekadar seremoni, tetapi sebagai momentum refleksi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan vokasi berbasis pesantren.

Kepala SMK Plus Almaarif Singosari, Toni Kuswinarto, S.T., menyampaiakan, usia ke-22 menjadi fase penting bagi sekolah untuk semakin matang dalam menyiapkan generasi yang mampu menjawab kebutuhan dunia kerja dan perkembangan teknologi.

Menurutnya, lulusan SMK Plus Almaarif tidak cukup hanya memiliki keterampilan teknis. Mereka juga harus memiliki karakter kuat, kemampuan berkomunikasi, serta landasan nilai keagamaan.

“Harlah ke-22 ini bukan sekadar momentum untuk merayakan bertambahnya usia sekolah. Ini menjadi kesempatan bagi kami untuk melakukan refleksi, melihat capaian yang sudah dilakukan, sekaligus memperkuat langkah ke depan,” ujar Toni, Sabtu, (15/8/2026).

Semangat tersebut dikemas melalui konsep Kompeten, Cakap, Energik, dan Elegan (KECE). Keempat nilai itu menjadi bagian dari upaya sekolah membentuk sosok teknokrat yang memiliki kemampuan vokasi sekaligus karakter.

Berbagai kegiatan disiapkan untuk memeriahkan Harlah ke-22. Salah satunya Skamtech Vocation Expo yang menampilkan produk inovasi digital dan karya unggulan siswa melalui kolaborasi dengan kelas industri.

Selain itu, sekolah menggelar Skill Competition antar-kompetensi keahlian. Kegiatan ini menjadi ruang bagi siswa untuk menguji kemampuan sekaligus membangun mental kompetitif yang sehat.

“Anak-anak kami harus kompeten dan cakap menghadapi perubahan zaman. Karena itu, keterampilan yang mereka dapatkan di sekolah harus terus dikembangkan dan disinergikan dengan kebutuhan industri,” jelas Toni.

Nuansa kreativitas juga hadir melalui panggung ekspresi seni. Sementara penguatan karakter dan nilai keagamaan diwujudkan melalui khataman Al-Qur’an serta kegiatan santunan sosial.

Toni juga menjelaskan, semarak Harlah ke-22 juga beriringan dengan peringatan HUT ke-39 Arema. Seluruh warga sekolah ikut terlibat dalam kegiatan yang mengangkat semangat kecintaan terhadap Malang.

Siswa dan pengurus OSIS menjadi motor kegiatan dengan mengenakan atribut khas Arema secara tertib. Guru dan tenaga kependidikan turut mendampingi serta mengarahkan siswa dalam apel pagi dan berbagai aktivitas peringatan.

Bagi sekolah, momentum HUT Arema bukan hanya berkaitan dengan sepak bola. Nilai yang ingin ditanamkan kepada siswa adalah sportivitas, persatuan, dan kecintaan terhadap daerah.

Toni menjelaskan, sportivitas penting untuk membentuk mental siswa, baik ketika berkompetisi di sekolah maupun ketika nantinya memasuki dunia kerja.

“Sportivitas mengajarkan anak-anak untuk berkompetisi secara jujur, menghargai keunggulan orang lain, dan mampu bangkit ketika mengalami kegagalan. Itu merupakan bagian dari karakter yang harus dimiliki seorang teknokrat,” katanya.

Semangat Arema juga diarahkan untuk memperkuat persatuan. Perbedaan latar belakang siswa diharapkan tidak menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan.

Melalui semangat “Makin Solid, Makin Berprestasi”, sekolah ingin menanamkan nilai ukhuwah sekaligus membangun rasa memiliki terhadap lingkungan dan daerah.

“Anak-anak juga perlu memiliki kebanggaan terhadap Malang. Dari local pride itu kami berharap muncul keinginan untuk ikut membangun dan mengharumkan nama Malang, bukan hanya di tingkat nasional tetapi juga global,” tambahnya.

Memasuki usia ke-22, SMK Plus Almaarif Singosari menargetkan pengembangan sekolah sebagai SMK Pusat Keunggulan berbasis pesantren. Penguatan kemitraan strategis, termasuk dengan dunia industri dan jejaring internasional, menjadi salah satu agenda pengembangan ke depan.

Sekolah juga akan terus mendorong inovasi teknologi terapan tanpa meninggalkan identitas religius dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.

Toni berharap, lulusan SMK Plus Almaarif Singosari nantinya tidak hanya dikenal sebagai tenaga kerja yang memiliki keterampilan teknis.

“Kami ingin melahirkan lulusan yang menjadi teknokrat, tetapi tetap memiliki mental yang tangguh, komunikasi yang baik, etika, serta integritas moral. Mereka harus mampu membawa nilai-nilai ASWAJA dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (humas).