YP ALMAARIF SINGOSARI – SMK Plus Almaarif Singosari terus memperkuat karakter kewirausahaan murid melalui workshop bertajuk Penguatan Karakter Kewirausahaan Murid SMK pada 15–17 Oktober 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Bantuan Pemerintah Program Proyek Kreatif Kewirausahaan (PKK) Murid SMK Tahun 2026.Mengusung tema “Membangun Jiwa Wirausaha Muda yang Kreatif, Mandiri, dan Berdaya Saing”, kegiatan tersebut menghadirkan Bangkit Ari Murti dari Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Kepala SMK Plus Almaarif Singosari, Toni Kuswinarto, S.T., menjadi narasumber dari pihak sekolah dalam kegiatan yang berfokus pada pengembangan pola pikir kewirausahaan dan keterampilan praktis murid tersebut.“Workshop ini dirancang untuk membekali murid dengan kemampuan mengenali peluang usaha, mengembangkan ide kreatif, serta memahami langkah-langkah awal dalam membangun bisnis yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ada tiga karakter utama yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini, yakni kreatif, mandiri, dan berdaya saing. Ketiganya menjadi bekal penting bagi murid sekolah menengah kejuruan (SMK) dalam menghadapi perkembangan dunia kerja sekaligus membuka peluang menjadi wirausaha muda.

Pada aspek kreativitas, murid didorong untuk mengenali persoalan di lingkungan sekitar sebagai peluang menciptakan produk atau jasa yang memiliki nilai ekonomi. Pendekatan ini diharapkan mampu melatih kemampuan berpikir inovatif dan menghasilkan solusi sesuai kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, karakter mandiri diperkuat melalui pemahaman mengenai mentalitas tangguh, manajemen risiko dasar, dan literasi keuangan. Bekal tersebut penting agar murid memiliki kesiapan untuk merintis usaha serta mengelola potensi ekonomi secara mandiri.

Adapun aspek daya saing mencakup pemahaman tentang standardisasi produk, pemanfaatan ekosistem digital, pemasaran daring, serta kemampuan membaca tren dan kebutuhan pasar.Implementasi Program PKK 2026 di SMK Plus Almaarif Singosari juga diarahkan untuk mendorong pengembangan unit usaha kreatif murid yang berkelanjutan dan dapat diintegrasikan dengan program Teaching Factory (TeFa).
Dengan demikian, pembelajaran kewirausahaan diharapkan tidak berhenti pada penyusunan ide atau pelaksanaan proyek sekolah.
Murid juga berkesempatan mengembangkan produk, memahami proses pengelolaan usaha, dan mempersiapkan hasil karyanya agar memiliki nilai jual.Keberlanjutan program menjadi aspek penting setelah workshop berakhir. Pendampingan melalui inkubasi bisnis sekolah dapat membantu murid menyempurnakan ide, menyusun perencanaan usaha, hingga mempersiapkan produk untuk dipasarkan.
Kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), termasuk pelaku usaha lokal, juga berpotensi memperluas pengalaman murid. Melalui kemitraan tersebut, murid dapat memperoleh masukan, menguji kualitas produk, dan memahami dinamika pasar secara langsung.
“Melalui kegiatan ini, kami menegaskan pentingnya pendidikan vokasi yang tidak hanya membekali murid dengan keterampilan sesuai bidang keahlian, tetapi juga menumbuhkan kreativitas, kemandirian, dan keberanian menciptakan peluang usaha,” jelas Toni.
Program PKK 2026 diharapkan menjadi salah satu langkah untuk menyiapkan lulusan yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu merintis usaha dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. (humas).



